Daily Archives: May 7, 2011

Membuat BROS atau PIN dari Plastik bekas atau botol plastik bekas

Membuat BROS atau PIN dari Plastik bekas atau botol plastik bekas
Untuk membuat pin atau bros dari plastik bekas, dapat anda lakukan dirumah atau ditempat kerja anda dengan sangat sederhana, yaitu hanya dengan kita melelehkan sebuah plastik dengan bentuk akhir tertentu. Plastik tidak perlu dibakar hangus, hanya kita panaskan, sedangkan untuk cetakan kita bisa mempergunakan sendok makan yang tidak terpakai lagi.
Caranya :
1. Plastik bekas, sikat gigi, atau sisir dan sejenisnya dipotong degan ukuran kecil-kecil, jika anda kesulitan memotongnya lakukan penumbukan (ditumbuk-tumbuk) saja. Pilihlah warna yang bermacam-macam untuk plastiknya, namun terserah keinginan anda. Putih saja, merah saja, atau campuran dua atau juga tiga warna.
2. Oleskan sedikit minyak goreng (sedikit saja atau bisa dioles secukupnya) pada sendok yang akan dibuat cetakan. letakkan potongan-potongan kecil plastik dalam wadah atau sendok.
3. Jangan lupa menyiapkan air dingin dalam wadah tempat mencuci tangan. Digunakan untuk mendinginkan plastik yang telah meleleh.
4. Nyalakan lilin, lalu taruh sendok yang telah bersi potongan plastik di atas nyala lilin.. jangan terlalu mendekatkan sendok dengan api, aturlah jarak api dengan sendok agar cukup panas untuk melelehkannya.
5. Jika sudah meleleh masukkan kedalam air dingin yang telah kita siapakan. Plastik yang telah meleleh akan segera membeku jika sudah dimasukkan dalam air. Kalau belum lepas dari sendok, tekan dengan ibu jari supaya lepas. Maka jadilah bentuk sesuai dengan cetakan tadi. Plastik yang telah terbentuk akan berwarna sesuai dengan pilihan.
Dengan bahan buatan tersebut, anda bisa membuat “bros” atau “pin”. Pada tahap yang kelima, tinggal tambah (jarum peniti) peniti dan direkatkan. Bila perlu anda bisa membuat beberapa variasi seperti gambar tato dll. gunakan soldier untuk membuat goresan-goresan atau bentuk yang anda inginkan. Semoga bermanfaat untuk berkreasi.

5 Comments

Filed under ARTIKEL

Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar
Kalau kita berbicara tentang pengajaran, orang mau tak mau harus mengarahkan perhatian pada 4 hal utama yaitu i) tujuan yang hendak dicapai, ii) strategi belajar mengajar, iii) buku ajar, dan iv) kompetensi profesional untuk berwe-wenang mengajarkannya. (Nababa, 1993: 181).
Perlu disadari bahwa Lembaga Pendidikan Tenaga Kepen-didikan (LPTK) yang bertang-gung jawab atas pendidikan tenaga-tenaga kependidik-an, tidak mempunyai program pendidikan tanpa tenaga kependidikan yang memiliki kewenangan mengajar-kan bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Sebelum adanya Kurikulum Kependi-dikan yang berlaku secara Nasional tahun 1994, LPTK diarahkan untuk menghasilkan tenaga pengajar untuk SMA.
Jangankan untuk Sekolah Dasar, untuk Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK dan SLTP pun LPTK tidak siap. Ini berarti bahwa penyelenggaraan pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar tidak ditangani oleh guru yang memang kompetenasi mengajar bahasa Inggris untuk SD. Ini berarti bahwa pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar diselenggarakan secara coba-coba belaka. Padahal apapun juga yang diajarkan di SD sebagai lembaga pendidikan dasar yang paling awal, mempunyai pengaruh yang besar terhadap pengajaran di jenjang pendi-dikan yang lebih tinggi. Kuat lemahnya dasar yang berhasil diletakkan di Sekolah Dasar akan menentukan perkembangan selanjut-nya.
Alexei A. Leontiev dalam bukunya Psychology and the Language Learning Process (1989) mengemu-kakan mengenai belajar bahasa pada masa kanak-kanak bahwa “Language learning in an early age of a child (6 – 12 years old) has a deceptive effect. His language development will be greatly affected by his experience in learning the language. When he has undergone the right track of learning his language acquisition will develop smoothly (Leontiev, 1989 : 211).
Pendapat Leontiev ini memberi peringatan bahwa pengajaran bahasa, khususnya suatu bahasa asing, harus, harus dijalani sesuai dengan tuntutan pembelajaran anak. Dan untuk dapat berbuat demikian, diperlukan seorang guru yang benar-benar kompeten untuk itu.
Karena pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar masih belum merupakan kegiatan kurikuler nasional, maka buku ajarpun tidak tersedia. Guru harus menggunakan bahan ajar darurat yang kesesuaian dan kemanfaatannuya tidak bisa dipastikan.
Dan dengan tidak tersedianya guru bahasa Inggris di SD, strategi belajar-mengajar yang benar dan sesuai dengan kebutuhan pem-belajaran siswa juga tidak bisa di kembangkan.
Kesimpulannya hanya satu: hasil belajar bahasa Inggris di Sekolah Dasar tidak bisa dinilai, karena tidak tidak bisa ditentukan tujuan yang hendak dicapai.
Jikalau pandangan Leontiev dijadikan pegangan, maka dapat diprediksi bahwa pengajaran bahasa Inggris di SLTP dan di SMU juga tidak mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Dan yang lebih buruk, kesalahan belajar di SD akan dibawa serta di SLTP dan SMU dan selanjutnya. Selain dari itu gairah siswa untuk belajar bahasa Inggris tidak atau akan sukar di kembangkan karena mereka mempunyai pengala-man yang tidak menyenangkan mempelajari bahasa itu di Sekolah Dasar.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Program Pengajaran Sekolah Dasar Berdasarkan Acuan Kurikulum 1984

Program Pengajaran Sekolah Dasar Berdasarkan Acuan Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 ini bukan lagi kurikulum yang disusun berdasarkan kemampuan dan kebutuhan bel;ajar sisiwa, tetapi lebih banyak didorong oleh pelbagai kepentingan yang berada di luar lingkup pendidikan dasar (Nababan, 1993 : 9). Pelbagai kepentingan telah masuk dan mempengaruhi muatan kurikulum sehingga kurikulum benar-benar melelahkan siswa. Akibatnya muncul reaksi psikis menolak. Siswa jadi acuh tak acuh terhadap pelajaran.
Pekerjaan rumah dikerjakan sambil lalu dan kesungguhan belajar menjadi mundur. Hal ini muncul sebagai reaksi psikis atas tekanan belajar dan berdisiplin yang di luar batas kewajaran bagi siswa yang berusia semuda itu.
Memikul tugas belajar dari demikian banyak buku dan ragam pelajaran dengan sendirinya menimbulkan reaksi jenuh (Surahmad, 1988: 57). Nilai bisa saja tinggi, tetapi fakta hasil belajar semakin rendah. Lebih-lebih ketika jenis tes objektif pilihan ganda merajalela, proses bernalar seolah-olah berhenti. Hendro memberikan ulasan yang keras sekali terhadap jenis tes objektif ini yang menurut beliau adalah bahwa jenis tes ini menipu semua pihak (Kraf, 1987: 55).

1 Comment

Filed under PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Program Pengajaran di Sekolah Rakyat

Program Pengajaran di Sekolah Rakyat
Di jaman penjajahan Belanda, di jaman pendudukan Jepang, program pengajaran di Sekolah Rakyat memang benar-benar program pengajaran dasar untuk rakyat. Program Sekolah Rakyat meliputi : menyanyi, menggambar, budi pekerti, berhitung, membaca, menulis, dan bersenam/bermain-main, menyanyi, menggambar, dan bermain-main adalah pelajaran yang memberi rasa senang dan gembira kepada anak-didik. Di sekolah mereka memperoleh kegembiraan dan semangat yang tidak diperolehnya di rumah (Winarno, 1972: 55).
Menyanyi, menggambar, dan bermain-main dilakukan secara metodik-didaktik dasar yang memang memberi manfaat bagi si anak. Dengan cara-cara yang diajarkan di sekolah, setiap anak dapat mengembangkan bakat dan minatnya sendiri-sendiri sesuai dengan lingkungan hidupnya.
Hanya membaca, menulis, dan berhitung yang harus dikerjakan dengan serius dan memerlukan disiplin yang tinggi. Sebagai hasilnya, siswa kelas dua Sekolah Rakyat sudah bisa diminta bantuan oleh ibunya yang buta huruf untuk menuliskan sebuah surat yang sederhana dan dapat menunggu warung dagangan dengan kemampuan yang baik.

Leave a comment

Filed under PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

PENDIDIKAN DASAR TINGKAT SEKOLAH DASAR

Pendidikan Dasar pada tingkat Sekolah Dasar

Psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan dengan jelas membeberkan kedudukan pendidikan dasar dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian anak yang menjalani pendidikan persekolahan tingkat dasar. Pendidikan persekolahan tingkat dasar inilah yang meletakkan dasar perilaku bersekolah selanjutnya (Ki Sarino M, 1982 : 75). Anak didik yang belum mempunyai kesadaran yang mantap tentang kewajiban-kewajiban serta tugas-tugas persekolahan, bisa mengalami kegoncangan mental, ketika menemui pengalaman belajar-mengajar di sekolah yang membuatnya terperangah (Iman Sudiyat, 1982 : 33).
Sejarah pendidikan dasar di Indonesia menunjukkan bahwa bukan baru di tahun sembilan puluhan ini, bahasa asing di ajarkan. Sebelum Perang Dunia II di jaman penjajahan Belanda, di sekolah-sekolah HIS yang sederajat dengan SD, mulai kelas-3 diajarkan bahasa Belanda secara intensif (Sadtono, 1988 : 27). Dan setiap siswa merasa sangat bangga ketika mulai berkenalan dengan bahasa Belanda. Baru seminggu dia belajar bahasa Belanda, si anak sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dan atau frasa dalam bahasa Belanda. Ketika di rumah, si anak dengan ucapan yang belum sempurna, namun sudah berani mendemonstrasikan di hadapan ayah-ibunya bahasa yang baru saja dipelajarinya di sekolah. Di malam hari ketika belajar, anak ini membaca buku pelajaran bahasa Belanda yang diberikan sekolah kepadanya dengan suara yang keras, agar orang lain bisa mendengarnya (Lambut, 1988 ; 19).
Di Jaman pendudukan Jepang, sejak kelas 2 Sekolah Rakyat, siswa harus belajar bahasa Jepang melalui aksara Katakana dan Hirakana. Baru di kelas 4 diajarkan aksara Kanji. Secara jujur harus pula dikatakan bahwa siswa Sekolah Rakyat yang belajar bahasa Jepang itu, dapat berbahasa Jepang dengan baik (Lambut 1988 : 36). Semua itu menunjukkan bahwa pelajaran bahasa asing di masa lalu, tidak menimbulkan masalah yang buruk bagi pembelajaran bahasa dan ilmu yang diperuntukkan bagi pendidikan dasar itu.

Leave a comment

Filed under PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR