Tag Archives: Pendidikan

abadikan dengan tulisan

Ide atau pikiran sering kali hilang, Pikiran serta ide yang memenuhi kepala kita itu seperti kuda liar yang siap berlari kesana kemari. Karena itu, ikatlah kuda liar tersebut yang bernama ide dan gagasan tadi dengan sebuah tali kuat bernama tulisan. Ada sebuah penelitian yang menyebutkan, setiap hari kepala manusia atau otak manusia tepatnya, dihinggapi seribu ide dan gagasan. Ide yang dimanfaatkan, tak lebih sekedar satu persen! Lantas yang lainnya kemana? Tentu saja lari. Andapun akhirnya gigit jari.

Anda lebih senang kepada pohon yang senantiasa berbuah-dan buahnya dapat selalu kita nikmati-atau pohon yang tak pernah berbuah sama sekali? Saya yakin seratus persen jika anda menjawab yang pertama. Begitu juga dengan aktivitas menulis bagi seorang mahasiswa. Ibarat pohon, mahasiswa yang sangat hobi menulis senantiasa ”berbuah” setiap hari. Buah tadi dapat dinikmati oleh mereka dan orang lain. Ide dan gagasan anda dapat digunakan oleh orang lain untuk menambah wawasan mereka. Atau juga kadang, memecahkan persoalan yang tengah mereka hadapi. Apalagi jika ternyata tulisan tersebut tersebar di media elektronik atau massa. Pasti banyak sekali keuntungan dan manfaat dalam menulis lewat media massa atau blog atau yang lain.

seperti halnya sang legenda pujangga yaitu Chairil Anwar. anak semata wayang, Evawani Alissa pernah bercerita bahwa ayahnya sempat berkata apabila umurnya bakal panjang, Chairil Anwar akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. namun apabila ternyata usianya pendek sebagaimana dikatakan Chairil sendiri, “anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburanku menabur bunga.”

Chairil tidak salah. usianya memang pendek. Dihitung dari lahirnya pada, 26 juli 1922, umurnya tak genap 27 tahun. soal anak sekolah, esensinya juga benar. namanya menjadi hafalan wajib dan sajak-sajaknya menjadi bacaan wajib, terutama untuk pelajaran Bahasa Indonesia.

dengan menulis anda seolah mengabadikan sumbangsih pemikiran kita. dengan demikian, andapun akan hidup ‘abadi‘ . seperti kata Chairil Anwar. “aku ingin hidup seribu tahun lagi”. semoga bermanfaat.

Leave a comment

Filed under ARTIKEL

Program Pengajaran Sekolah Dasar Berdasarkan Acuan Kurikulum 1984

Program Pengajaran Sekolah Dasar Berdasarkan Acuan Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 ini bukan lagi kurikulum yang disusun berdasarkan kemampuan dan kebutuhan bel;ajar sisiwa, tetapi lebih banyak didorong oleh pelbagai kepentingan yang berada di luar lingkup pendidikan dasar (Nababan, 1993 : 9). Pelbagai kepentingan telah masuk dan mempengaruhi muatan kurikulum sehingga kurikulum benar-benar melelahkan siswa. Akibatnya muncul reaksi psikis menolak. Siswa jadi acuh tak acuh terhadap pelajaran.
Pekerjaan rumah dikerjakan sambil lalu dan kesungguhan belajar menjadi mundur. Hal ini muncul sebagai reaksi psikis atas tekanan belajar dan berdisiplin yang di luar batas kewajaran bagi siswa yang berusia semuda itu.
Memikul tugas belajar dari demikian banyak buku dan ragam pelajaran dengan sendirinya menimbulkan reaksi jenuh (Surahmad, 1988: 57). Nilai bisa saja tinggi, tetapi fakta hasil belajar semakin rendah. Lebih-lebih ketika jenis tes objektif pilihan ganda merajalela, proses bernalar seolah-olah berhenti. Hendro memberikan ulasan yang keras sekali terhadap jenis tes objektif ini yang menurut beliau adalah bahwa jenis tes ini menipu semua pihak (Kraf, 1987: 55).

1 Comment

Filed under PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

Program Pengajaran di Sekolah Rakyat

Program Pengajaran di Sekolah Rakyat
Di jaman penjajahan Belanda, di jaman pendudukan Jepang, program pengajaran di Sekolah Rakyat memang benar-benar program pengajaran dasar untuk rakyat. Program Sekolah Rakyat meliputi : menyanyi, menggambar, budi pekerti, berhitung, membaca, menulis, dan bersenam/bermain-main, menyanyi, menggambar, dan bermain-main adalah pelajaran yang memberi rasa senang dan gembira kepada anak-didik. Di sekolah mereka memperoleh kegembiraan dan semangat yang tidak diperolehnya di rumah (Winarno, 1972: 55).
Menyanyi, menggambar, dan bermain-main dilakukan secara metodik-didaktik dasar yang memang memberi manfaat bagi si anak. Dengan cara-cara yang diajarkan di sekolah, setiap anak dapat mengembangkan bakat dan minatnya sendiri-sendiri sesuai dengan lingkungan hidupnya.
Hanya membaca, menulis, dan berhitung yang harus dikerjakan dengan serius dan memerlukan disiplin yang tinggi. Sebagai hasilnya, siswa kelas dua Sekolah Rakyat sudah bisa diminta bantuan oleh ibunya yang buta huruf untuk menuliskan sebuah surat yang sederhana dan dapat menunggu warung dagangan dengan kemampuan yang baik.

Leave a comment

Filed under PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

PENDIDIKAN DASAR TINGKAT SEKOLAH DASAR

Pendidikan Dasar pada tingkat Sekolah Dasar

Psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan dengan jelas membeberkan kedudukan pendidikan dasar dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian anak yang menjalani pendidikan persekolahan tingkat dasar. Pendidikan persekolahan tingkat dasar inilah yang meletakkan dasar perilaku bersekolah selanjutnya (Ki Sarino M, 1982 : 75). Anak didik yang belum mempunyai kesadaran yang mantap tentang kewajiban-kewajiban serta tugas-tugas persekolahan, bisa mengalami kegoncangan mental, ketika menemui pengalaman belajar-mengajar di sekolah yang membuatnya terperangah (Iman Sudiyat, 1982 : 33).
Sejarah pendidikan dasar di Indonesia menunjukkan bahwa bukan baru di tahun sembilan puluhan ini, bahasa asing di ajarkan. Sebelum Perang Dunia II di jaman penjajahan Belanda, di sekolah-sekolah HIS yang sederajat dengan SD, mulai kelas-3 diajarkan bahasa Belanda secara intensif (Sadtono, 1988 : 27). Dan setiap siswa merasa sangat bangga ketika mulai berkenalan dengan bahasa Belanda. Baru seminggu dia belajar bahasa Belanda, si anak sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dan atau frasa dalam bahasa Belanda. Ketika di rumah, si anak dengan ucapan yang belum sempurna, namun sudah berani mendemonstrasikan di hadapan ayah-ibunya bahasa yang baru saja dipelajarinya di sekolah. Di malam hari ketika belajar, anak ini membaca buku pelajaran bahasa Belanda yang diberikan sekolah kepadanya dengan suara yang keras, agar orang lain bisa mendengarnya (Lambut, 1988 ; 19).
Di Jaman pendudukan Jepang, sejak kelas 2 Sekolah Rakyat, siswa harus belajar bahasa Jepang melalui aksara Katakana dan Hirakana. Baru di kelas 4 diajarkan aksara Kanji. Secara jujur harus pula dikatakan bahwa siswa Sekolah Rakyat yang belajar bahasa Jepang itu, dapat berbahasa Jepang dengan baik (Lambut 1988 : 36). Semua itu menunjukkan bahwa pelajaran bahasa asing di masa lalu, tidak menimbulkan masalah yang buruk bagi pembelajaran bahasa dan ilmu yang diperuntukkan bagi pendidikan dasar itu.

Leave a comment

Filed under PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR